PENYEDIAAN LITERASI ILMIAH PADA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013

Kompetensi inti (K1) dalam dalam Kurikulum 2013 memuat empat sub pokok bahasan yaitu (K1-1) memuat tentang sikap spiritual yang wajib dimiliki peserta didik baik dalam lingkungan sekolah maupun masyarakat; (K1-2) memuat tentang sikap sosial yang wajib dimiliki peserta didik baik dalam lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat; (KI-3) memuat tentang aspek pengetahuan (kognitif); dan (KI-4) memuat tentang keterampilan (psikomotor).

Bila kita cermati, buku teks yang pada saat ini banyak digunakan sebagai sumber rujukan di sekolah-sekolah baik pada tingkat Pendidikan Dasar maupun Menengah, belum merepresentasikan sebuah sumber rujukan (bahan bacaan) yang berisi pengetahuan dan informasi ilmiah yang dapat mengantarkan anak terutama pada sikap spiritual yang baik. Cara sederhana untuk mendeteksi bahwa buku teks yang digunakan sekolah (siswa) belum berisi materi yang dapat digunakan untuk membentuk sikap spiritual yang baik adalah melihat datar pustaka buku tersebut. Pada daftar pustaka buku-buku tersebut adakah sumber bacaan yang berisi tentang sikap spiritual terutama buku-buku agama tentang pembentukan akhlak generasai muda yang berkaitan degan topik tersebut. Misalnya dalam mata pelajaran Fisika bab tentang Besaran, Satuan dan Pengukuran. Adakah bagian teks buku tersebut yang mengutip tentang ayat-ayat baik dari Kitab Suci, Hadist maupun buku tafsir yang memberikan pedoman cara mengukur yang baik pada kehidupan masyarakat? Ternyata tidak ada. Kalau tidak ada, bagaimana buku itu bisa dijadikan pegangan untuk membentuk sikap spiritual siswa. Materi tentang sikap spiritual yang berkaitan dengan bab yang dibahas saja tidak ada, apalagi pemilihan metode pembelajaran yang sesuai. Ini menunjukkan bahwa dalam kebiasaan membuat citation (kutipan) di dalam menyusun buku teks pelajaran telah terjadi pemisahan antara sains teknologi dengan sains teknologi melaui wahyu yang ada pada kitab-kitab suci, Hadist, buku tafsir. Ini menjadikan generasi manusia yang terbentuk memiliki kompetensi sains teknologi yang baik tetapi kering dalam kapasitas spiritual. Sebagai contoh kita lihat sekilas tentang metode pemaparan ayat dalam Al Quran, biasanya manusia diajak untuk belajar dulu melalui membaca, pengamatan dan berfikir, kemudian diberi ilmu pengetahuan melalui cerita dan akhirnya diminta untuk mengakui sifat-sifat agung Sang Pencipta dengan sikap dan tindakan akhir sujud (ketaatan). Di dalam Al Qur an juga diceritakan bagaimana besaran dan satuan dalam berniaga, dalam menghitung waktu. Bahkan dalam menghitung waktu sudah secara jelas menggunakan Teori Relativitas, misalnya perjalanan malaikat dari lauful mahfudz ke dunia bisa dalam hitungan sehari menurut dimensi imajiner (ghaib), tetapi menurut hitungan manusia 1000 tahun.

Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjadi perintis penulis buku yang dapat merekonstruksi kembali bersatunya sains teknologi dan agama. Insyaallah khusnul khotimah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *